Thursday, August 12, 2004

Acara TV beregejul!!! Damn those TV stations!

[Siah mah bisana ngan ngagorengkeun batur wungkul, goblog. Ngaca beul!]

Kenapa sih tiap saya mau bicara, kamu selalu nyela duluan?

[Tong nyentak beul, bisi dibabuk!]

{Kalian ini kerjanya selalu saja bertengkar. Sementara rakyat kecil pada kelaparan, kalian malah berbuat yang tak produktif. Pantas sajalah negara ini tak maju-maju...}

Udah dong, kembali ke pokok bahasan. Menurut kalian, kenapa acara TV jaman sekarang banyak yang menyedihkan?

[Eta mah siah we nu ngomong kitu, goblog. Aing mah resep lalajo tipi, da' bintang pelemna tea gareulis.]

{Taulah kau, tak pernah aku tonton itu televisi. Eh, kau malah suruh aku komentar. Kau tahu, banyak tu wawancara tak bermutu di majalah dan koran karena yang tak kompeten yang diwawancaranya. Kau mau buat wawancara yang seperti itu?}

Loh, kamu bukannya nggak pernah nonton gara-gara acaranya banyak yang nggak bermutu?

{Betul itu. Memangnya kenapa?}

Nurut kamu, kenapa acara tivi nggak mutu?

{Aku paling tak suka itu dubbing. Dubbing itu buat orang jadi malas baca. Kacau kali. Sekarang apa saja didubbing. Sampai film horor berbahasa Inggris pun kena dubbing. Kacau lah.}

Setuju! Kartun-kartun kesukaanku didubbing semua, jadi nggak enak nontonnya.

{Ah, kau ini yang ditonton cuma kartun saja. Coba semua orang seperti kau. Bagaimana negara ini mau maju?}

Biarin dong. Suka-suka! Lagian sekarang saya cuma nonton Tom And Jerry, soalnya itu satu-satunya kartun yang nggak didubbing. Kalo liat kartun lainnya... jadi sedih deh.
Masa' Looney Tunes didubbing, padahal ciri khas Looney Tunes kan ada di dialognya. Tiap tokoh punya karakter khas masing-masing. Tapi itu semuanya ilang gara-gara dubbing! Misalnya, si Elmer Fudd kan aslinya cadel dan ngomongnya imut, tapi pas didubbing suaranya jadi kayak penjahat. Nggak ada lagi tuh 'wascawy wabbit, malah jadi 'kelinci...' tau ah, lupa. Terus 'I tawt I taw a puddy tat' jadi 'kukira aku melihat seekor kucing'. Apaan tuh? Jadi nggak berkarakter!

{Kau bisa juga banyak omong kalau topiknya yang macam begini. Lanjutkan!}

[Aing asa teu diwaro kieu...]

Saya pengen liat, nanti kalo The Simpsons ditayangin lagi bakal didubbing apa nggak. Pengen tau, ntar dubbernya ngedub 'doh'-nya si Homer kayak gimana. Apalagi nanti kalo film Yellow Submarine ditayangin. Kalo sampe didubbing bisa rusuh...

{Kau ini katanya tak suka dubbing, tapi kesannya kau justru mendukung dubbing. Tak jelas kali kau. Hancur negara ini kalau semua orang tidak konsisten seperti kau!}

Kalo gitu, gantian dong kamu yang ngomong.

{Ah kau ini. Bilang saja kau tak tahu mau bicara apa lagi! Ya sudah. Aku tak suka dubbing karena acara televisi jadi terdengar monoton. Lihat saja, acara televisi yang ada cuma berbahasa Indonesia dan Inggris. Kalau mau dengar bahasa lain mesti pakai televisi yang bisa bilingual. Siapalah yang sanggup beli televisi seperti itu. Bodoh kali orang-orang televisi itu.}

Iya, terus konyolnya, acara tivi itu bikin kesan kalo semua orang di dunia bisa ngomong pake bahasa Indonesia. Malah ada logat khasnya masing-masing. Misalnya, film India didubbing, logatnya jadi kayak gitu. Terus film Jepang didubbing, logatnya jadi kayak gimana. Dan seterusnya. Dan saya yakin orang India, Jepang atau apalah, kalo ngomong bahasa Indonesia, nggak ada yang logatnya kayak di film yang didubbing! Dan tanpa mesti ngeliat filmnya, cuma modal dengerin dialognya aja saya bisa tau kalo itu aslinya film India, Jepang, Cina, Amerika atau telenovela yang didubbing.

[Hei, naha aing teu diwaro kieu?]

{Aku juga tak habis pikir, kenapa itu film-film luar harus didub?}

Iyah. Ntar jangan-jangan kalo kita ngekspor film ke luar, gantian film Indonesia yang didubbing di sana. Itung-itung bales dendam...

{Ah, mimpi kau. Di negeri sendiri saja film Indonesia tak laku, apalagilah di luar negeri sana. Kau ini dangkal kali pikirannya. Generasi muda yang tak pernah berpikir panjang macam kau ini yang bikin negara tak maju-maju!}

Eh, kamu nyadar nggak kalo kita ngomongnya udah lumayan panjang... udah hampir 4k nih!

{Lah, baru 4k. Biasanya kau kuat sampai ratusan. Lanjutkan!}

Tapi kalo tulisannya panjang kan, orang jadi males baca. Survei membuktikan, di tempat kuliah saya dulu, 95% orang yang buka e-mail pake pine akan langsung mencet tombol 'D' kalo dapet imel yang isinya panjang.

{Ah, survei kau itu tak ada yang valid! Tak percaya aku pada itung-itungan statistikmu itu! Lanjutkan!}

Iya deh. Jadi alasan pertama kenapa kamu nggak suka nonton tivi adalah karena dubbingnya. Terus alasan kedua apa?

{Kenapa jadi aku yang mesti bicara?}

Kamu yang minta ngelanjutin.

{Ah, kau ini. Alasan kedua kenapa aku tak suka nonton tivi...}

[Geus ah, aing indit. Barangke siah, teu ngawaro aing!]

Dadah...

{Lanjutkan... alasan kedua kenapa aku tak nonton tivi, stasiun televisi itu latah semua! Kalau ada itu acara di televisi stasiun lain yang sukses pastilah pada ikut-ikutan. Tak kreatif kali mereka itu. Pantaslah pertelevisian negara ini tak maju-maju.}

Misalnya AFI ya? Terus yang lainnya pada bikin Indonesian Idol, KDI, Indonesian Model... terus apa lagi ya...

{Ya, itu contohnya. Dan taulah kau orang Indonesia ini belum dewasa. Tiap acara seperti itu, bukan yang bagus nyanyinya yang menang, tapi yang bersimpatik dan penampilannya keren. Payah kali itu penonton yang memilih. Tak ngerti aku, mau-maunya mereka kirim SMS banyak-banyak untuk yang seperti itu. Buang-buang duit saja.}

Iya, bener. Masa' si Delon jadi satu-satunya kontestan cowok yang tersisa di Indonesia Idol... Michael sama Lucky yang jauh lebih bagus malah tersisih. Beneran payah tuh penontonnya. Si Delon jelas-jelas cuman ngandalin tampang kok bisa masuk 4 besar. Ntar jangan-jangan malah si Delon yang menang...

{Kalau sampai itu si Delon yang menang, pantas sajalah kalau permusikan negara ini tak maju-maju.}

Iyah, orang lebih ngeliat tampang daripada suara...

[Goblog siah anjrit! Siah mah sirik lantaran si Delon leuwih kasep ti siah! Bener pan?]

Loh, katanya mau pergi...

[Tong ngalihkeun topik, beul! Kitu-kitu ge si Delon mah kasep, bisa asup Indonesian Idol. Coba mun siah miluan audisi, beul. Nu jiga maneh mah moal diloloskeun ku si Indra Lesmana oge. Meureun we siah bakal dihujat bebeakan ku jurina. Siah mah sora goreng tapi bisa we ngagorengkeun batur, goblog! Ngaca beul, ngaca!]

{Benar kali itu Bro. Tak baik kau jelek-jelekkan orang seperti itu.}

Iya deh... kembali ke topik semula. Tadi sampe mana?

{Kalau tak salah, tadi kita bicara tentang stasiun televisi yang latah. Kalau ada apa-apa yang laku pastilah ditiru.}

Oh ya ya. Inget sekarang. Kasih contoh lain dong, gimana latahnya stasiun-stasiun tivi kita.

{Contoh lain ya... kau ingat itu Meteor Garden yang beberapa tahun lalu pernah sukses di Indonesia? Kau lihat saja apa yang terjadi setelah itu. Itu para pemain sinetron dicarinya yang rambutnya gondrong, matanya sipit dan mukanya persegi. Semuanya jadi mirip Tau Ming Se.}

Iya yah... terus sejak Ada Apa Dengan Cinta ditayangin di bioskop, kayak di sinetron juga muncul banyak tokoh yang kribo, cuek dan demen puisi...

[Keun wae atuh, da' si Toming Se mah kasep. Si Rangga ge kasep. Dian Sastro komo. Teu jiga siah. Siah mun maen pelem mah moal aya nu nempo, pang alusna ge jadi piguran!]

Udah dulu ah ngomongnya. Jadi males nih. Ntar kapan-kapan kita sambung lagi kalo nggak ada si Udung.

[Naha kudu teu aya aing? Siah mah keki pisan ka aing, beul! Babuk geura ku aing!]

-----
Daftar hadir :
Ubro
[Udung]
{Dorman}

Wednesday, August 04, 2004

43% sopir angkot di Bandung mengaep?

{Mengaep? Istilah dari mana pula itu?}

Mengaep berasal dari kata 'Aep'. Aep adalah seorang sopir angkot jurusan Kebon Kelapa - Dago yang punya kebiasaan menyandarkan tangan kanannya ke jendela pintu yang terbuka pada saat nyetir mobil. Jadi, mengaep berarti nyandarin tangan kanan ke jendela pintu yang terbuka pada saat nyetir mobil. Ngerti?

[Siah sangeunahna pisan nyieun istilah jiga kitu. Emangna maneh geus menta ijin ka si Aep?]

Belom sih, tapi dia pasti bangga kalo namanya dijadiin istilah kayak gitu. Sukur-sukur nanti namanya masuk kamus besar bahasa Indonesia. Kan lumayan, bisa dibangga-banggain.

{Kau ini... apalah yang bisa dia banggakan dari hal seperti itu? Bagaimana negara ini mau maju kalau hal seperti itu saja dibangga-banggakan?}

[Heueuh... sok nyaho pisan siah, goblog!]

Udah, udah... nggak baik ngomongin orang. Begini. Minggu lalu, ketika saya melewati Jalan Surapati, saya iseng ngitungin sopir angkot yang mengaep. Hasilnya, dari 100 sopir angkot yang diamati, 43 di antaranya mengaep. Kebanyakan sopir angkot yang mengaep adalah sopir angkot jurusan Cicaheum - Cibaduyut...

[Baleg we, beul! Cicaheum Ledeng mah teu ngaliwatan Jl. Surapati. Goblog, siah mah menyesatkan wae, anjrit!]

{Apal 'kali kau sama trayek angkot di Bandung!}

[Aing mah kieu-kieu ge cerdas, beul. Teu jiga baturan aing nu hiji ieu.]

Eh salah... kebanyakan sopir angkot yang mengaep itu sopir jurusan Cicaheum - Ciroyom. Kesimpulan kasarnya, 43% sopir angkot di Bandung mengaep...

{Yang seperti itu kau sebut penelitian?}

Emangnya kenapa?

{Tak valid itu... aturan kau amati juga kelakuan sopir angkot di ruas jalan lain. Amati juga kalau hujan lebat, apakah ada sopir angkot yang meng... yang berbuat seperti itu. Baru kau bisa simpulkan berapa persen sopir angkot yang... apa pun itu istilahnya tadi.}

Wah, nggak ada waktu. Lagian kayaknya 43% udah cukup valid

{Kau ini cepat 'kali puas. Baru sekali kau amati sudah merasa puas. Pantaslah negara ini tak maju-maju!}

[Heueuh, beul. Siah niat pisan ngitungan nu kitu. Jiga nu euweuh gawe we. Kaciri pisan siah teh pengangguran, goblog.]

Iya deh. Nanti tak amatinya lagi tuh sopir angkot. Nantikan laporan berikutnya, oke?

-----
Daftar hadir :
Ubro
[Udung]
{Dorman}

Tes

Tes tes tes...
Inikah yang namanya blog?

[Goblog siah, gaptek pisan anjrit. Kuliah we di impormatika, tapi teu nyaho blog-blog acan!]

Sori atuh... sebenernya sayah malesh bikin yang ginian. Nggak tau mau nulis apaan. Nggak ada ide. Tapi berhubung ada yang nyaranin daku untuk bikin yang beginian, terpaksa deh... lagian nggak ada salahnya 'kan nyobain?

[Ah, siah mah pipiluan we. Tarohan jig jeung aing, tilu bulan ti ayeuna maneh geus poho jeung nu kieu]

Waduh...

{Protes! Kenapa si... si... siapapun itu... ngomongnya pake bahasa Sunda kasar?}

Biarlah... kan orang Bandung

[Kumaha aing beul. Siah tong loba protes! Bisi dibabuk ku aing...]

So, ladies and animals. Inilah isian pertama saya in my first blog. Sori kalo bahasanya rada acakadut dan campur-aduk nggak jelas. Ini gara-gara si Udung nggak...

[Bisa we siah nyalahkeun batur!]

Udah ah...

--------
Para pemeran :
Ubro
[Udung]
{Dorman}